Minggu, 19 Desember 2021

Kehamilan Kedua

 

        Waktu itu tanggal 7 Februari 2021, ada seseorang share di grup wa tentang seleksi beasiswa S2 tazkia jurusan magister ekonomi syariah dan magister akuntansi syariah. Sesaat ada keinginan untuk mengikuti seleksi tersebut tapi masih fifty-fifty. Tiba-tiba ada teman kantor sedivisi kirim pesan wa, mengajak untuk mengikuti seleksi bersama. Pendaftaran seleksi terakhir tanggal 8 Februari 2021, muncul keraguan lagi dan aku bilang ke dia sepertinya aku akan ikut batch 2 aja sekitar bulan juni 2021, karena selain sudah mepet agar bisa lebih mempersiapkan diri baik berkas maupun kesiapan tes TPA dan interview. Tapi ternyata dia tidak menyerah, dia bilang kalau tidak lulus batch 1 kita ikut seleksi lagi batch 2. 

        Atas seijin suami dan atasan, akhirnya bismillah segera aku lengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan, dan mengirimkannya sekitar pukul 23.00 wib di malam terakhir pendaftaran. Setelah mengikuti serangkaian tes TPA dan interview, qadarullah aku lulus beasiswa 100%. Senang tapi sedikit ragu mau diambil atau tidak karena ada yang ingin supaya aku lebih fokus program hamil karena tanpa terasa pernikahan kami sudah menginjak 7 tahun. Tapi karena suami mendukung, bismillah aku putuskan untuk mengambilnya.. waktu itu aku pikir, siapa tau Allah ngasih hamil lagi saat sedang proses perkuliahan, siapa tau kan? karena takdir itu hanya Allah yang tau.

        Tanpa terasa tiba waktunya UTS semester 1 di pertengahan bulan November 2021. Saat itu tiba-tiba rasanya seperti mau menyerah. Kuliah sambil bekerja ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi saat deadline kerjaan dan deadline tugas harus dikumpulkan di waktu yang sama. Bahkan pernah mengerjakan tugas UTS sampai subuh baru bisa tidur. Hal ini membuat keraguan lagi, bagaimana bisa sambil program ya.. Kerja + kuliah, sering begadang, dan kebetulan suami juga sibuk dengan pekerjaannya dimana sering keluar kota. Berhubungan  pun sekali dua kali di masa subur. Yaa meskipun sama-sama sibuk, tapi kami masih sempat untuk menandai masa subur. Tidak ada salahnya tetap berharap bukan ?

        UTS berakhir, dan rutinitas pun kembali seperti semula. Bukannya lebih longgar, tapi semakin padat merayap apalagi di awal bulan Desember. Jum'at tanggal 3 Desember ada pernikahan saudara, yang mau ga mau harus cuti dari kantor karena harus menghadiri pernikahan dari pagi sampai sore. Malemnya masih menemani suami packing di rumah mertua karena masih ada orderan yang harus dikirim (suami juga jualan herbal, online). Sampai rumah sekitar pk. 22.00 wib, dan masih harus menyiapkan beberapa barang karena esok paginya kami ada agenda family gathering dengan teman-teman suami di Ujung Kulon selama dua hari yang mana perjalanan menghabiskan waktu sekitar 5 jam dari tempat kami. 

        Saat famgath, teman-teman suami semua sudah ada anak 2-3. Hanya kami yang belum mempunyai anak. Agak sedih memang, tapi bersyukur ada anak temanku yang suka main sama kami, sehingga kami (terutama aku) tidak terlalu kesepian. Di perjalanan pulang, bahkan anak tersebut mendoakan agar kami segera di kasih adek bayi :terharu:. Seminggu kemudian, di hari Minggunya tangal 11 Desember, kami berdua mengecat rumah. Ini memang sudah kami rencanakan dari jauh-jauh hari bahkan kami sudah membeli semua perlengkapannya. Waktu itu suami mau menyuruh orang lain, tapi aku berpikir kenapa tidak mengecat sendiri saja, toh ini bisa dilakukan di saat kami ada waktu libur dan ga harus langsung selesai.. dan ternyata sangat melelahkan, wkwk.

        Hari selasanya, tanggal 14 Desember, entah kenapa aku ingin testpack (aku selalu sedia tespack di rumah) karena ada perasaan sedikit mual dan perutnya agak kurang enak. Waktu itu sehari sebelum jadwal haid. Dan masyaAllah hasil testpack menunjukkan dua garis namun masih agak samar. Karena agak ragu, aku mencoba minta pendapat saudara dan teman dekat. Dan mereka bilang positif. Esoknya aku coba tespack lagi karena takut alat testpack nya rusak jadi hasilnya salah. Dan hasilnya masih dua garis makin terang. Ya Allah, saat itu rasanya terharu ingin menangis, kok bisa padahal kondisi lagi capek-capeknya. Tanggal 16 Desember, atas saran teman, aku dan suami coba cek ke dokter. Dan alhamdulillah saat di USG sudah kelihatan usia kandungan 4-5w namun baru kantung kehamilan. Dan diminta untuk kembali cek 1 bulan mendatang. Aku juga minta diresepin obat penguat kandungan, karena ada riwayat kista dan kehamilan sebelumnya pernah keguguran. Saat ini yang dirasakan banyak ketakutan-ketakutan. Takut ini bukan kenyataan, takut kejadian seperti kehamilan sebelumnya, dan ketakutan yang lainnya.

        Untuk itu, aku mohon do'a dari teman-teman pejuang dua garis, teman seperjuangan.. Do'akan supaya kehamilan kali ini sehat dan lancar sampai waktunya melahirkan nanti. Dan semoga ananda kelak menjadi anak yang sholeh/sholehah, mengamalkan dan jadi penghafal al Qur'an, cerdas, dan Qurata'ayyun. Aku juga berdo'a untuk bunda-bunda semuanya, agar disegerakan dan dimudahkan oleh Allah. Aamiin.

        Kalau masih ada  bapak, ingin rasanya aku menyampaikan kegembiraan ini. Pak, ini lho anakmu bisa lanjut S2 dengan beasiswa. Ini lho anakmu saat ini sudah hamil. Karena bapak satu-satunya yang mendukung aku untuk terus sekolah, pun saat pernikahan aku berjalan 1-2 tahun, bapak juga yang mendukung dan bilang agar kami segera cek ke dokter 😭. Semoga Allah lapangkan kuburmu ya Pak, Allah ampunkan dosa-dosamu, Allah terima semua amal ibadahmu di dunia, dan semoga bapak termasuk salah satu ahli surga. aamiin. 















Selasa, 26 November 2019

RUMAH

Aku itu tipe orang yang mencari kenyamanan. Nyaman dalam artian, hal-hal yang buat aku jauh dari stress. Awal-awal pernikahan banyak banget hal-hal yang buat aku stress, salah satunya yaa karena masih seatap dengan mertua. Dan konon katanya stress itu salah satu penyebab tak kunjung hamil. Sebenarnya mertuaku itu orang yang baik, baik banget malah.. Tapi kadang ada beberapa hal yang aku sama mertua tak sepemikiran, dan itu buat aku jadi lebih banyak mengalahkan egoku saat di rumah mertua. Oh dan tentu harus jaim kan, jadi tidak sebebas kalau di rumah sendiri.

Awal-awal aku menikah itu, sangat terobsesi untuk misah dari mertua. Karena tidak diijinkan untuk kontrak, jadi mau ga mau harus nyari nyari rumah kan. Tapi malang, awal perjalanan kami mencari rumah tak semulus bayangan kami. Sangat susah mencari rumah yang klik sesuai budget (menengah kebawah), rumah-rumah di daerah yang kami minati sekitaran ciputat-bintaro- pamulang harganya sangat fantastis sehingga kami harus mencari rumah lebih ke pedesaan sekitar wates-cinangka.

Waktu itu tahun 2015 aku dan suami sedang melihat-lihat perumahan yg lumayan enak dan nyaman menurutku, tapi untuk waktu itu gajiku dan suami ternyata sangat mepet, belum bisa untuk mengambil rumah itu. Sepulangnya dari situ di perjalanan kami berpapasan dengan seseorang yang sedang menuntun motornya. Sumpah, kalau diulang kembali ke scene itu, sangat berharap tidak dipertemukan dengan orang itu. Sebutlah inisialnya M, si M ini tiba-tiba menegor kami dan bertanya pada kami apakah kami sedang mencari rumah. Dan dengan polosnya kami mengiyakan, dan mengalirlah obrolan kalau dia sedang menjual tanah. Kami mau mau aja diajak diajak ketemuan untuk yang kedua kali hanya sekedar melihat-lihat tanah yang dia jual.

Setelah kami melihat-lihat beberapa tanah yang dia jual, awalnya kami ga minat sama sekali. Karena yang kami cari adalah perumahan, kalau beli tanah kapan kami bisa membangun rumahnya kalau dana kami saja terbatas. Malangnya ketemu dengan orang itu kami ceritakan dengan keluarga, dan malangnya lagi kakak ipar kami ingin melihat juga. Setelah kakak ipar melihat tanah yang di jual tersebut, ternyata mereka tertarik untuk membeli tanah tersebut seharga kurang lebih 100jt dengan luas kalau ga salah sekitar 200M2 lokasinya strategis di pinggir jalan.

Tak hanya sampai situ, ternyata si M ini juga mempertemukan dan memperkenalkan kami dengan Pak RW yang juga sedang menjual tanahnya. Awalnya memang kami sama sekali tak tertarik, seperti yang aku bilang dengan alasan tersebut di atas. Tapi kakak ipar dan mertua memaksa untuk melihat-lihat dulu, dan tak disangka ternyata mertua tertarik dan menyarankan pada kami untuk membeli nya. Setelah diskusi ini itu, dan meyakinkan diri dan mengecek beberapa hal, akhirnya kami mengambil rumah tersebut yang hanya seluas kurang lebih 100M2 dengan harga 60JT. Beruntung, karena kami tidak punya uang seperti kakak kami. Jadi kami membayar tanah tersebut dengan system cicilan. Tepat saat kami mencicil sampai 25JT, dan ya kami makin curiga setelah tanya2 tetangga sekitar bahwa tanah tersebut sengketa atau apalah. Akhirnya pak RW mengaku juga bahwa tanah tersebut bukan tanahnya. Lalu gimana dengan cicilan kami yang 25JT tersebut? Yah Pak RW berjanji akan mengembalikan uang tersebut dengan cicilan walaupun dari waktu itu sampai sekarang sudah berlangsung kurang lebih 4 thn belum juga lunas masih sekitar 19JT lagi.
Lalu bagaimana dengan kakak ipar, apakah si M itu penipu juga? Ya ! kami turut prihatin. Tapi sekali lagi itu musibah. Uang kakak ipar kami juga belum sepeser pun di kembalikan. Tentunya itu sebagian ada uang pinjaman dari mertuaku.

1 tahun berlalu tidak membuat kami surut untuk mencari rumah. Berbekal info dari teman suami, katanya ada perumahan Islami di daerah gunung sindur-parung. Namun masih saja kami bernasib sial. Bukannya ke perumahan yang dimaksud, kami malah kesasar ke perumahan lain, perumahan bersubsidi (KPR bersubsidi). Awalnya kami tidak terlalu tertarik melihat lokasinya yang masih seperti lagu ninja hatori (bukit dan lembah). Kami kemudian meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke tempat yang kami tuju sebelumnya dengan membawa leaflet kpr bersubsidi tersebut pastinya.

Setelah kami menuju lokasi yang dari info teman suami, lokasinya bagus strategis, tapi lagi lagi sepertinya kami tidak dapat mengambil kpr perumahan Islami tersebut karena harganya masih lumayan buat kantong kami. Dan kami pun pulang dengan meceritakan (lagi) hasil perburuan kami mencari rumah. Tak disangka saudara sepupu suami tertarik dengan KPR perumahan Islami tersebut, dan kami memutuskan untuk mengambil KPR bersubsidi yang mana lokasi ini berdekatan. Ketika cerita ke teman suami, teman suami pun ikut mengambil KPR bersubsidi tersebut. Kami mengambil rumah hook dengan DP 25JT dan 1JT untuk hook nya jadi total 26JT. Sialnya, pengembang kpr bersubsidi tersebut adalah pengembang abal-abal yang tak punya modal. Sehingga pembangunan mandek dengan kerugian sekitar 200KK*25JT. Bisa dibayangkan kan ? Meskipun pengembangnya sudah di penjara, namun uang kami tidak dapat kembali. Terpaksa kami harus merelakan uang tersebut. Hal yang sama pun terjadi dengan sepupu suami, tanah yang sedang proses KPR perumahan Islami tersebut masih sengketa, syukurnya karena pengembangnya Muslim dan masih memengang nilai2 ke-Islam-an, sehingga uang DP full dikembalikan.

Dengan kejadian tertipu dua kali ini, aku secara pribadi agak trauma untuk mecari rumah. Sehingga kami memutuskan untuk tetap tinggal di rumah mertua dulu sambil mengumpulkan uang yang cukup untuk mengambil perumahan yang tidak abal-abal lagi. Sesungguhnya dalam pencarian rumah ini, aku sendiri kadang pun masih ragu-ragu antara dua pilihan. Menabung untuk promil kah mengingat untuk promil ini butuh biaya yang tidak sedikit, atau untuk rumah terlebih dahulu. Meskipun dulu awal-awal menikah berharap ingin punya rumah dulu baru punya anak, tapi sungguh ini bukan lah yang sebenarnya do'a. Wallahu'alam, ternyata baru dikasih hamilnya setelah 5 tahun menikah, 3 bulan setelah menempati rumah sendiri.

Setelah tertipu dua kali itu, sambil menabung kami fokus untuk promil. Sehingga niat kami waktu itu, ya sudah lah kalau nyari rumah kan ga bisa sebentar dan umur kami pun makin bertambah, jadi kami niatkan benar-benar untuk memiliki momongan terlebih dahulu.
Qadarullah aku diuji oleh Allah dengan sakit yang mengharuskan kami untuk mengabaikan keduanya antara rumah dan anak sekitar tahun 2018. Fokus kami menjadi aku ingin sembuh, ingin sehat.

Setelah ujian sakit ini berlalu, alhamdulillah subhanallah, dengan bantuan Allah kami bisa mengatasinya. Tidak lama dari aku operasi, aku dapat tawaran kpr dari istri teman kantor. Waktu aku info ke suami, sebenarnya kami belum berniat untuk mencari rumah karena kami sama sekali belum ada dana. Waktu suami lihat, suami tertarik dan mengajakku untuk sekedar melihat.

Akhirnya aku membuat janji ketemuan dengan istri teman kantor. Dan setelah kami melihat lokasi dan memastikan segala hal terkait pengembang fiktif atau bukan, dengan ijin Allah dan Allah mudahkan kami dalam prosesnya dan semuanya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Kami dapat memiliki rumah itu, dengan DP ringan dan cicilan yang terjangkau buat kami.

Setelah akad rumah sekitar agustus-september 2018, ternyata ada sisa DP rumah di tabungan. Dengan pertimbangan matang, kami ingin mencoba inseminasi. Qadarullah kami belum berhasil dengan dua kali proses insem. Dan qadarullah lagi, sakit sebelum operasi muncul kembali.
Terakhir konsul dokter, alhamdulillah dokter sangat mensupport kami. Mengatakan bahwa kami masih muda,  masih banyak kesempatan untuk hamil. Tidak perlu operasi lagi. Sehingga kami memutuskan untuk relax, dan melakukan aktivitas lainnya yakni persiapan untuk pindahan rumah.

Kami mulai menempati rumah kami pas banget 1 minggu mau puasa Ramadhan sekitar bulan sekitar bulan Mei 2019. Alhamdulillah 3 bulan setelah menempati rumah yakni bulan September 2019 aku berhasil hamil alami, tanpa promil apapun. Meskipun kehamilan ini masih belum rezeki kami, yang pada akhirnya aku keguguran tepat di hari ulang tahunku tanggal 11 Oktober 2019.
Tapi tidak mengapa, dari kehamilan itu kami berdua sudah sangat sangat bersyukur. Allah sudah kasih petunjuk buat kami, bahwa kami bisa punya momongan meskipun belum saatnya.
Paling tidak, menjadikan kami untuk terus dan lebih berprasangka baik sama Allah.

Allah lebih tahu yang terbaik bagi kami berdua. 

Senin, 25 November 2019

Abortus Spontan / Abortus Komplit

Kututup buku novel I Am Sarahza karya mbak Hanum Salsabiela. Aku memutuskan untuk menyelesaikan membaca buku itu, tepat saat aku ingin mengakhiri masa dukaku lusa, dua hari yang lalu 11-10-2019 tepat di hari ulang tahunku. Sedikit banyak yang dirasakan mbak Hanum, dapat pula aku rasakan.

Bertahun-tahun penantian, ketika Allah hadiahkan dua garis di testpackku, betapa rasa bungah yang tiada tara. Seakan dunia dan seisinya bukanlah apa-apa, seolah-olah hadiah ini adalah segalanya. Padahal ada Allah yang Maha Segalanya. Sepersekian detik, menit, jam, hari, minggu lupa akan kebesaran Allah. Bahwa Allah yang memberi, Allah berhak pula mecabut kembali. 

Persis sama.

Jika mbak Hanum berpura-pura sedikit membusungkan perut, hanya karena ingin mengatakan, ini loh aku sedang hamil, ada anak di dalam perutku. Sama, akupun demikian.
Yang biasanya makan sedikit tak berselera, begitu tau aku hamil, tiba-tiba ingin memakan segala, ya pura-pura aku ibu hamil loh, makan aku sekarang banyak. Allahu Akbar, Maha Besar Allah, Pemilik Skenario terbaik di alam semesta. Maka sesungguhnya, aku telah takabur. Bisa jadi memang Allah sengaja mengujiku, betapa aku takabur dengan pemberian Allah. Betapa aku takabur, bahwa segala kepunyaan kita adalah milik Allah. Astaghfirullah..

Saat itu, aku telat mens satu minggu. Karena aku terbiasa mencatat hari mensku sejak sebelum menikah, jadi aku tau pasti kapan aku akan mens. Penantian lima tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar. Seringnya telat mens beberapa hari, kemudian testpack negatif dan besoknya mens, membuat aku tidak mau kecewa berulang. Sengaja aku tunda waktu mens sampai tepat telat dua minggu. Bodohnya setelah aku telat mens sebelum aku testpack, aku sengaja lari-lari naik turun tangga berniat agar mens cepat keluar, dan melakukan aktivitas berat lainnya. 
Tepat setelah telat dua minggu, hari Jum'at pagi aku testpack. Allahu Akbar dua garis terang. Ya ! Alhamdulillah aku positif, hamil alami. Setelah sebelumnya aku merasa tidak ada harapan untuk bisa hamil alami. Subhanallah !  Jika Allah berkehendak, maka ini sangat mudah bagi Allah.
Jadi percayalah, bahwa Allah itu ada. Allah akan mengabulkan do'a hamba-Nya yang berdo'a kepada-Nya. 

Sama seperti ibu hamil lainnya yang bertahun-tahun mendambakan keturunan. Melakukan USG untuk pertama kalinya, dan sudah terlihat kantung kehamilan membuat aku sangat-sangat senang terutama suamiku. Banyak khayalan-khayalan kami berdua layangkan, nanti dedek bayi perempuan atau laki-laki ya, akan melahirkan dimana, akan akikah dimana, nanti mau minta stroller kakak ipar yang sudah tidak terpakai, dll. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Allah cukupkan hadiah ini hanya sampai sekitar tujuh minggu. Aku keguguran tepat saat hari ulang tahunku.

Sebelumnya aku memang beberapa kali keluar flek, kata dokter tidak apa-apa, memang biasa awal-awal kehamilan.. empat hari setelah aku kontrol dokter, hari kamis aku ada meeting di kantor pusat naik transjakarta. Saat sholat dhuhur sudah ada tanda-tanda flek sedikit. Dari sini sebenarnya aku sudah agak cemas. Pulang dari meeting, sekitar pukul 2 siang, aku kembali ke kantorku menggunakan transjakarta lagi. Agak kapok memang, karena untuk nunggu transjakarta ini lumayan lama bisa satu jam lebih, dan ketika adapun aku tidak dapat tempat duduk sehingga aku berdiri. Rasanya benar-benar buat aku pusing yang amat sangat, betul-betul rasa lelah yang lain dari biasanya.. Pinggang pun sangat pegal.. Sampai di kantorku, rasanya amat sangat lemas, dan terus-terusan keluar flek.

Aku memutuskan untuk bedrest di malam itu sampai hari Jum'at nya. Saat bedrest sebenarnya flek berhenti, tapi saat berdiri untuk sekedar ke toilet pasti langsung keluar flek. Begitu terus berulang-ulang. Sampai puncaknya saat mau sholat dhuhur, keluar darah merah segar banyak seperti saat mens. Saat itu aku dan suami memutuskan untuk langsung ke rumah sakit terdekat. Sayangnya setelah sampai rumah sakit, dokter baru praktek malam hari. Jadi kami putuskan untuk kembali malam setelah isya.. Tapi memang belum rezeki aku dan suami, tepat saat maghrib calon dedek bayi keluar dengan sendirinya, sudah agak berbentuk.

Setelah isya, kami berangkat ke rumah sakit untuk konsul dokter dan USG. Dan dokter menyatakan rahim aku sudah bersih, tinggal sisa-sisa darah sedikit, nanti juga akan bersih dengan sendirinya.
Aku dikasih resep untuk bleeding, antibiotik, anti nyeri dan penambah darah. Pendarahan ini berlangsung sekitar satu minggu dengan perut yang amat sakit.
Setelah tiga minggu pasca keguguran, aku mens kembali. Mens pertama kali pasca keguguran ini pun sangat sakit seperti saat keguguran.

Oya, jangan ditanya aku promil apa sebelum hamil ini. Sama sekali tidak. Sejak terakhir dipertemukan dengan dokter Malvin sekitar bulan Desember 2018. Dan ya, dokter Malvin menyemangatiku. Bahwa aku masih muda, masih banyak kesempatan untuk hamil, jangan pantang menyerah, dan selalu berprasangka baiklah sama Allah. Sejak itu, aku belum pernah lagi kembali ke dokter kandungan. Pun untuk promil, sama sekali tidak ada rencana. Dan sungguh, rencana-Nya adalah yang terbaik.

Sekitar tiga bulan sudah, aku dan suami tinggal di rumah sendiri misah dari mertua. Semenjak itu pun, yang terpikir oleh kami adalah aku ingin sehat, aku ingin mengobati kista yang tumbuh lagi enam bulan pasca operasi laparaskopi. Rutin pagi malam aku minum jelly gamat yang dibelikan suamiku. Mungkin salah satunya karena ikhtiar minum gamat ini, tapi selebihnya memang sudah Takdir dari Allah. Sekarang pun, pasca keguguran, aku masih rutinkan minum ini. Karena manusia hanya bisa berikhtiar, dan Allah lah penentu segalanya. 

Jadi teringat kisah yang di share oleh sahabat.

kisah dua insan....
antara logika dan takdir

****
Diceritakan, dua musafir dalam perjalanan jauh mengendarai mobil.Sebut saja namanya logika, dan yang lainnya adalah takdir.

Di tengah perjalanan, mobil mereka tak bisa dikendarai lagi karena kehabisan bahan bakar(bensin).Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.Dengan harapan, akan menemukan tempat persinggahan sebelum malam tiba.
Namun, mereka tak menemukan tempat  itu.
Karena lelah, berjalan tanpa guna. mereka ingin  beristirahat.
Logika memutuskan untuk tidur  di samping pohon.Sedangkan Takdir memutuskan tidur  tepat di tengah jalan.

Logika terkejut dan berseru ," Kamu gila.!!! Ini bunuh diri namanya. Sangat mungkin mobil akan datang dan langsung menggilasmu.

Disahut oleh Takdir "Aku hanya akan tidur di tengah jalan .Sangat mungkin, ada mobil datang lalu melihatku, menyelamatkan kita kemudian mengantar kita ke tempat tujuan.

Akhirnya mereka pun beistirahat di tempat sesuai keinginan masing masing.
Logika tidur di bawah pohon, sementara Takdir di tengah jalan.
Satu jam kemudian, datanglah sebuah mobil besar melaju dengan kecepatan tinggi.
Ketika pengemudi melihat ada sesosok manusia terbaring persis di tengah jalan,,,,,
dengan jarak sangat dekat,,,,,,,,, dia pun berusaha untuk menghentikan mobilnya.Namun apalah daya.......

Mobil tergelincir.

Meluncur cepat tak terkendali.

Mobil berbelok menuju arah pohon.

Akhirnya?...
Mobil menabrak pohon dan Logika hingga tewas.
Sementara Takdir  tetap selamat.

* *
Inilah realita.Terkadang, takdir memainkan  peran walau berbeda dengan logika manusia.
*bisa jadi, keterlambatan kamu dari bepergian adalah sebuah kebaikan.
*bisa jadi, kamu yang belum menikah di dalamnya ada berkah.
*bisa jadi, penolakan dari sebuah tugas / pekerjaan di dalamnya ada kemaslahatan.
*bisa jadi, terhalangnya kamu dari memiliki anak adalah sebuah kebaikan 
*boleh jadi, kamu tidak menyukai sesuatu namun itu lebih baik bagimu .

Allah Maha Tahu.Sedangkan kamu tidak.

**
Semoga apa yang diusahakan dapat tercapai.
Semoga apa yang diharapkan dapat terkabul.
Semoga Allah ridhoi aku untuk hamil lagi dalam waktu dekat, dengan kehamilan yang sehat sampai melahirkan.. Aamiin, aamiin ya mujibassailin.

Rabu, 23 Oktober 2019

REZEKI ITU PUNYA ALAMAT..

Kalau rizqi itu diukur dari kerja keras...
maka kuli bangunan lah yg akan cepat kaya.

Jika rizqi itu ditentukan dr waktu kerja...
maka warung kopi 24 jam lah yg akan lbh mendapatkanya..
bahkan mungkin mampu mengalahkah KFC dan Mc. DONALD

Jika rizki itu milik orang pintar...
maka dosen yg bergelar panjang yg akan lbh kaya...

Jika rizqi itu karena jabatan...
maka presiden dan rajalah orang yg akan menduduki 100 orang terkaya di dunia..

Rizqi itu karena kasih sayang Allah.

" Mengejar rizqi, jangan mengejar jumlahnya, tetapi berkahnya."
( Ali bin Abi Thalib )

MESKIPUN LARI, RIZKIMU AKAN TETAP MENGEJARMU

“Kalaulah anak Adam lari dari rizqinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rizqinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down",  dalam terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya.
Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi  dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira.
Abdurrahman bin Auf r.a pun juga gembira.

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga, sebab berharap
jatuh miskin!

Masya Allah, hebat.

Coba kalau kita ? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun, Masya Allah
Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik...

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Subhanalloh
Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

"Wahai manusia, di langit ada rizqi bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi, yang banyak memberi rizqi itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang Memberi rizqi

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua,  yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN KEPADA ALLAH dibanding urusan dunia yang sementara ini...

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ



(copas WA group)

Minggu, 20 Oktober 2019

Promil #4 Inseminasi

Bismillah..,

Jika Mamak sudah sampai ke tahap ini, berarti besar kemungkinan mamak sudah melewati tahapan promil alami dengan maupun tanpa obat, dan pastinya promil alternatif juga kan ya.. misal akupunktur, urut, herbal, dll.

Sama hal-nya denganku.

Beberapa kali baca testimoni, kalau pasca operasi Laparoskopi (LO) akan mudah atau cepat hamil alami. Dulu sebelum ketahuan kalau aku ada kista, sempet searching mengenai LO ini.. dan ga kaget juga sih ya, untuk LO ini butuh dana atau biaya yang ga sedikit. Banyak dari pejuang promil yang tidak diketahui penyebab infertilnya berikhtiar salah satunya melalui LO ini. Jadi rahim, indung telur, saluran tuba, servics semua di cek dan dibersihkan jika ada hal yang mengganggu kesuburan.

Kadang, tanpa kita sadari, ada bagian dalam hati kita yang tergerak keinginannya dan secara ga langsung berharap banget bisa LO walaupun sepertinya kalau dipikir secara logika tanpa uang mana mungkin bisa kan ya..

Eh, subhanallah alhamdulillah, Allah kabulkan keinginanku untuk LO ini.. yaah meskipun harus divonis kista terlebih dahulu, hehe.. Tapi aku percayai bahwa ini takdir. Dan akupun LO dengan BPJS alias free tanpa biaya sama sekali.

Pasca LO, hati sudah tenang kembali, karena nyeri haid juga alhamdulillah sudah teratasi. Haid juga langsung normal kembali dan lebih cepat,biasa 29-30 setelah LO siklus haid menjadi 27 hari. Namun sejujurnya aku agak bertanya-tanya, temen-temen yang lain setelah LO kista, pasti diresepin suntik tapros/endrolin/divalin atau ga diresepin obat visanne untuk menekan pertumbuhan kista kembali.
Karena bagi penderita kista sangat riskan, apakah duluan hamil atau kistanya. Setelah diingat-ingat, mungkin karena aku nyampein kalau mau langsung promil, jadi dokter Agus ga ngasih resep obat-obatan diatas. Berharapnya kalau aku segera hamil.

Lewat 2 bulan, aku belum kunjung hamil juga. Cari referensi sana-sini, dan berkat baca-baca di forum Female Dayli (FD), akhirnya aku memutuskan untuk mencoba berikhtiar kembali dengan Inseminasi buatan. Waktu itu inginnya sih segera mungkin, karena katanya golden period untuk promil itu ya antara 3-6 bulan pasca LO. Tapi karena mendadak, kami ditawari rumah sama temen, jadi kami fokus untuk mengurus KPR rumah terlebih dahulu.. Alhamdulillah, masyaAllah, ini benar-benar di luar rencana.. karena kami memang sedang ga megang uang sama sekali untuk ambil kpr rumah ini.. Setelah sebelumnya agak trauma 2x kena tipu untuk urusan beginian.. (next time aku ceritain yaa perjalanan aku sama suami nyari rumah).

Balik lagi, untuk urusan kpr itu agak lama ya.. karena nyiapin dokumen-dokumen, fokus ke pembangunan rumahnya, belum urusan akad bank nya.. Ga terasa sudah 6 bulan pasca LO dan aku belum juga kunjung hamil. Setelah mengantongi info dari temen-temen di FD dan kami pun sudah memantapkan diri untuk inseminasi, akhirnya kami memutuskan untuk inseminasi di klinik Sehati Serpong dengan dr. Handojo, beliau juga praktek di RS Omni Alam Sutera.
Lumayan banyak yang berhasil insem dengan beliau, untuk biaya nya pun di klinik sehati tidak semahal RS-RS swasta lainnya..

Saat mens hari kedua, setelah liat jadwal ternyata dr Han pas lagi praktek di RS Omni Alsut, jadi kita langsung telpon kesana untuk daftar promil dengan beliau. Kesan pertama ketemu beliau sih, orangnya welcome banget, ramah, sederhana, dan ga money oriented sih. Karena pas aku tunjukin berkas-berkas pemeriksaan sebelumnya, kata beliau udah cukup, ga perlu cek-cek ulang lagi. Jadi kita bisa langsung mulai untuk insemnya.

Kami pun langsung di USG karena ini mens hari kedua, jadi penting buat dokternya untuk tau kondisi rahim, apalagi pasca LO aku belum pernah sama sekali untuk USG, apakah sudah bersih dari kista atau belum. Sangat deg-degan pastinya, dari rumah sebelum berangkat juga sebenernya udah agak worried. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan betul betul terjadi. Di indung telur kiriku ada kista lagi kurang lebih sebesar 5,3 cm, dan ini bukan ukuran yang kecil. Tapi aku berusaha untuk tenang, dan minta saran dokter bagaimana baiknya.

Dr Han waktu itu menyarankan untuk LO ulang, seketika langsung lemes, karena memang ga siap mental kalau harus LO ulang dalam waktu dekat ini. Mencoba untuk nego dengan dr Han, alhamdulillah beliau setuju untuk mencoba langsung insem. Namanya ikhtiar kan.. Meskipun aku harus bertaruh dengan keadaan kistaku.. Mau ga mau ketika konsumsi obat penyubur lagi, maka akan berpengaruh dengan si kista tersebut bukan ?

Aku juga mantapkan dalam hati, kalau misal insem sampai 3x berturut-turut dan belum berhasil, mungkin bisa dipertimbangkan untuk LO ulang (how saddd.. hiks).

Proses insemku (yang pertama) dan biaya nya kurang lebih segini ya mak;

H2 : RP 830.000,- (konsul 1), USG, + dikasih obat penyubur fertin 1x1 sama asam folat, dan suami diresepin lipesco (RS Omni Alsut). Disuruh dateng langsung ke klinik Sehati pas H10.

H10 : Rp 550.000,- (konsul 2), USG. (klinik Sehati)

Alhamdulillah dapet 2 sel telur kanan kiri, besarnya 1,7cm dan 1,4cm. Aku pikir udah cukup lah ya untuk insem, apalagi aku baca-baca review temen-temen, H10 kontrol itu langsung suntik pemecah telur, besoknya langsung insem ternyata aku insemnya H14. Diinfo juga sama dokter, nanti 15 menit sebelum insem minum 1lt air dan tahan pipis karena rahmiku anteflexi.

Aku tanya sama dr Han, kapan sebaiknya waktu suntik pemecah telur dan waktu terbaik untuk insem. Kata beliau, bagusnya saat sel telur ukurannya minim 2cm dan idealnya 2,2cm. Dan aku sama suami disuruh bikin PR besoknya 2 hari sebelum suntik pemecah telur, antisipasi kalau sel telur sudah pecah duluan. Dikasih opsi sama dr Han mau insem di Omni atau di klinik Sehati. Aku pilih di klinik Sehati, selain faktor biaya, waktunya juga kalau di Omni harus pagi sedangkan aku pagi kerja, jadi ga bisa.

H13 : Rp 520.000,-  (malam), suntik pemecah telur. (klinik Sehati)
H14 : Rp 1.750.000,- INSEM (klinik Sehati) dan diresepin obat penguat kandugan tapi harus nebus di luar, karena di klinik Sehati lagi kosong.

Total Rp 3.650.000,-  udah konsul, USG + obat. Muraah kan yaaa.. ga nyampe 4 jt.

Yang greget, dari sekian lama proses insem, waktu yang paling menegangkan adalah di saat menunggu 12-14 hari pasca insem.. Dan itu bikin pikiran ga bisa tenang. Hiks..

Tiba saatnya H28 teng, aku mens sodara-sodara.. yang artinya insem pertamaku gagal total.. karena haidku datang ontime tepat pada waktunya. So, aku balik lagi dong ke dr Han, untuk mencoba insem yang ke-2.

Untuk insem keduaku ini, secara proses dan obat ga jauh berbeda sih dengan insem yang pertama. Bedanya obat penyuburnya dinaikin dosisnya aja jadi 2x1. Selebihnya sama.. Oh dan alat untuk memasukkan sperma yang sudah di wash juga ada yang berbeda. Itu aku agak kurang paham ya..
Intinya aja, dan insem keduaku pun gagal mak.. Tapi insem yg keduaku itu pas gagal ya ga sesedih insem pertama sih, biasa aja.. Cuma karena masih numpang di rumah mertua (ehh, rumah udah jadi sih, tapi belum ditempatin), jadi mertua pun tau kalau aku insem, yaa secara ga langsung ini bikin down juga sih mak.. Pengennya kalau promil itu ga ada siapa2 yang tau. Karena kalau ada yang tau dan kita gagal, jadi agak gimana gitu.. Perjuangan yang sungguh melelahkan, masyaAllah.

Setelah insem keduaku pun berakhir sad ending, untuk lanjut insem yang ke-3 aku agak ragu. Mungkin karena merasa udah lelah ya.. padahal dibanding perjuangan temen-temen yang sampai tahap IVF, perjuanganku belum apa-apa.

Dari situ pingin banget nyari second opinion mengenai kistaku. Apakah memang perlu LO ulang atau mending di hold dulu sambil nabung-nabung untuk IVF. Jadi kalaupun harus LO ulang ya sekalian bablas untuk IVF.

Awalnya konsul online, inbox FB ke salah satu dokter yang mayan terkenal juga di dunia maya, dr Susi, SpoG. Beliau menyarankan untuk nabung aja persiapan IVF, dibanding harus LO ulang.
Masih belum puas juga, aku dan suami langsung ke RSIA Hermina Ciputat untuk konsul dengan Dr. Malvin Emeraldi, SpoG (k). Beliau juga sama, tidak menyarankan untuk operasi ulang, karena efeknya akan jauh lebih banyak.. seperti perlengketan, dll. Beliau menyarankan untuk nabung persiapan IVF. Beliaupun menjelaskan, ada proses mirip dengan IVF tapi lebih alami dan biayanya juga masih terjangkau, namanya adalah IVM. Mungkin mamak-mamak bisa googling aja ya.. untuk lebih jelasnya mengenai IVM ini.

Pertemuan dengan dr Malvin di bulan Desember 2018 itu, adalah pertemuan terakhirku untuk promil medis.. Dr malvin pun tidak memberikan resep obat apapun. Oya sebenarnya kami dikasih surat untuk cek HSG ulang dan cek AMH ulang untuk mengetahui saluran tuba dan cadangan sel telurku pasca LO karena efek LO juga berpengaruh kesitu juga. Karena terhambat biaya, jadi kami urungkan.
Dr malvin pun menyemangati kami, bahwa tidak ada yang sulit, membuat kehamilan ini sangat mudah bagi Allah. Selalu dan selalu berprasangka baiklah sama Allah yaaa. Semangattt !

Cukup sekian kisah insemku ya mak.. Next promil apa yaaa.. hehe, stay tune aja di blog ini.. insyaAllah aku ceritakan lagi ngapain aja setelah itu..Mohon maaf kalau tulisannya acak adut ya..

Salam pejuang kehidupan !









Jumat, 18 Oktober 2019

Laparoskopi

Sudah lama ingin nulis pengalamanku laparoskopi (LO) kista endometriosis / kista coklat, tapi apa daya malah kelupaan.. Blog ini pun secara ga sengaja nemu pas lagi googling sesuatu.. Jadi coba-coba untuk masuk lagi (sempet kebingungan cara masuk ke blog sendiri, wkwk_ maklum pemula).

Jadi alhamdulillah.. hari Jum'at 23 Maret 2018 terlaksana juga aku operasi LO. Awalnya tegang, deg2an, ga bisa diungkapkan dengan kata-kata deh karena ini sekali-kalinya aku rawat inap di RS, untuk operasi pula. Tapi sangat-sangat bersyukur punya suami yang support banget, ikhlas banget nungguin bolak balik ke RS, ngurus administrasi.. Ya meskipun sedih ga ada yang nengokin, hahaha.. Pas banget temen2 kantor ada acara keluar kota sih, terus sengaja ga ngabarin temen2 deket.. Apalah, masak ngasih kabar yang ga nyenengin gini ye kan..

Dimana aku LO dan dengan dokter siapa, mungkin aku ceritain ulang lagi aja ya, siapa tau ada yang belum baca tulisan2 aku sebelumnya..

Jadi aku LO dengan dr Agus Surur Asaadi, SpoG (k) di RS Fatmawati, dengan pembayaran via BPJS alias semua FREE.. alhamdulillah ini sangat-sangat ngebantu banget, karena jika berbayar pasti butuh biaya yang ga sedikit.. bisa sekitar 30-45 juta pengalaman temen-temen sih.

Ini aku mau cerita detail, tapi agak-agak lupa.. Padahal niat banget waktu itu sengaja foto-foto biar lebih greget gitu ceritanya.. masih ada fotonya di HP, next time semoga bisa aku posting ya..
So, ini berdasar yang aku inget aja.. Oya, beberapa cerita inti karena aku udah pernah post di forum female dayli, jadi tadi sempet ngubek-ngubek postingan aku biar ngarangnya ga kebangetan karena lupa, hehe..

Aku dapet jadwal LO di hari Jum'at 23 Maret 2018. Inipun harus antri, buat dapetin jadwal itu udah antri dari bulan Januari 2018 loh.. Nah hari Rabu tanggal 21 Maretnya aku diminta dateng, aku pikir, oke bakal ijin kantor setengah hari seperti biasa kalau aku konsul kesini kan.. Udah niat banget ngantor abis dari RSF. Eh pas dateng diantar suami, ga taunya sama suster udah langsung rawat inap.. kaget dong yaah.. kirain operasi jumat, biasanya mulai masuk sehari sebelumnya yakni kamis.
Sempet nego juga sama susternya, eh kata susternya kalau ga masuk sekarang blm tentu nanti2 dapet kamar.. Oke fine, untungnya malem Rabu di rumah udah prepare tas yang buat ranap di RS.. macam ibu2 mau melahirkan gitu , bawa baju ganti, perlengkapan mandi, perlengkapan sholat, dll.
Setelah itu langsung ngabarin atasan dong ya, kalau ga bisa masuk kerja karena hrs masuk RS hari itu juga.. Tadinya ga info ke temen2 yang lain, tapi akhirnya di share juga sama atasan.. Well its OK.

Nah pas hari Rabu itu aku masuk lain sendiri ya.. karena kan persiapan kerja, jadi masih pake pakaian resmi kerja gitu.. Pas masuk setelah ngurus administrasi, diantar ke ruang rawat inapnya.. Dan dapet giliran antri dipanggil perawat utk ambil darah dan masukin jarum utk pasang selang infus. Pas pasang selang infus itu aku agak kaget, lah emang langsung diinfus ya.. ternyata tidak sodara-sodara.. Dan itu aku sebel harus nahan sakit di tangan sampai hari Jumat tiba.. kan jadi bengkak tangan akuuu.. Mandi pun jadi susah, ribet..

Biasanya kalau kerja kan aku jarang banget sarapan ya.. Pengen banget siang itu aku langsung makan, tapi tidaaak.. ternyata aku udah harus puasa .. hikss.. Sama ahli gizi juga aku udah di data hanya minum susu sampe hari Jumat.. ditambah malem jumatnya aku dikasih pencahar minum..
Apalah ini yg dikeluarkan nanti.. jadinya ya air-air doang yang dikeluarin..

Hari jumat sebelum subuh, suster udah dateng untuk infoin harus mandi keramas. Okey.. sekarang giliran aku.. Karena aku di kamar kelas 2, jadi di ruangan itu ada 4 orang yang bergiliran Operasi.
Dari situ aku udah mulai tegaaaang bangettt.. Alhamdulillah suami terus2an nenangin.

Setelah wangi, sambil nunggu suster dateng, sambil ga lepas dari dzikir.. Suster dateng sekitar jam setengah 6 atau jam 6-an agak lupa.. Diantar lah aku pake kursi roda. Aku tanya ke suster dong.. "sus, saya bisa jalan sendiri, saya jalan aja .. kan berat".. Soalnya jauh boo dari ranap ke ruang persiapan operasi. Eh sama susternya ga dibolehin, katanya nanti dia dimarahin.. Okelah,, sambil sesekali si mbak susternya minta tolong pak suami utk bantu gantian dorongin kursi roda.

Sampai di ruang persiapan operasi, aku diminta untuk ganti baju operasi, semua perhiasan juga dilepas, terus cek2 tensi sama ada interview sedikit sama petugas.. sambil bergiliran dipanggil untuk masuk ruang operasi.. tentu aja udah di bed yang didorong2.

Kesan aku untuk pertama kali sih, dari ruang persiapan operasi sampai ke ruang operasi, tempatnya nyaman, bersih, steril, adem.. Pokoknya enak.. mengenyampingkan rasa takut sama alat-alat yang di ruang operasi ya..

Sampai di tempat operasi, alhamdulillah tim-tim dokternya baik-baik.. ramah, sambil diajak ngobrol skin test, suntik antibiotik, trus disuntik lagi entah apa.. sambil dengerin percakapan di tim yang nyante banget sambil becandaan.. daaaan.. pas melek tau-tau udah diruang pemulihan.. Dengan beberapa orang yang abis operasi jg.. Whaaa.. ga berasa banget, sampe mikir.. ini beneran udah selesai?

Alhamdulillah masuk ke ruang operasi sekitar jam 7, waktu itu dr Agus nya blm dateng .. entah datengnya jam berapa karena kondisi udah ga sadar. Dan selesai dibawa ke ruang ranap sekitar jam 12-an setelah sholat Jumat. Pas keluar dari ruang pemulihan pertama kali liat muka suamiku, aduuh rasanya kangen speechless kayak berbulan-bulan ga ketemu.. langsung deh dicium kening aku.. huhu.. so sweet..

Hasil LO, ternyata aku kista ga cuma 1 di kanan, ternyata di kiri juga ada, ada perlengketan di tuba kanan dan belum berhasil di koreksi sama dr agus, terus ada polip rahim juga dan udah dibersihkan..
Oya lupa, jadi selain LO, sama dr Agus sekalian hysteroskopi.. Jadi biar semua penyakit yg ada di mulut rahim dan di sekitar rahim sekalian dibersihkan.. (terima kasih dr Agus).

Jadi itu ya pengalaman aku LO. Ada 4 titik kecil. Setelah itu rasanya ga terlalu sakit sih, udah langsung bisa miring kanan kiri, duduk. Dan ga boleh makan dulu sampai kentut atau terdengar pergerakan usus. Alhamdulillah itu juga ga lama kok malemnya langsung makan. Dr Agus juga berkunjung juga, agak lupa malem atau paginya gitu. Sempet ngobrol bentar juga.. intinya dokternya baik banget, kebapakan.. dan sudah ahli dibidang ini.. Semua dokter spesialis di RSF menurutku bagus sih.. cuma sayang fasilitasnya yang agak kurang bersih dll, dibanding RS swasta jauuh. Semoga pemerintah lebih aware yaa sama fasilitas pasien terutama kebersihannya.

Sabtu paginya dimandiin sama suster, agak malu yaa meski sesama cewek.
Terus minggu pagi aku udah minta pulang, ga betah di RS. Senin udah bebenah, Selasa udah masuk kerja..  Minggu depannya udah aerobik garis keras (loncat-loncatan maksudnya). wkwk

Untuk temen-temen, jangan ditiru yaa,, karena setelah LO butuh istirahat yang cukup. Apalagi jika untuk persiapan promil. Olahraga perlu, tapi yang ringan-ringan aja dulu.

Terima kasih ya temen-temen sudah berkenan membaca. InsyaAllah next aku mau cerita tentang inseminasi ku.. Yep, sudah pernah insem juga dong pasca LO.. hehe..

See Yaa !



Senin, 12 Maret 2018

RUMUS TAMBAH RIZQI & HARTA :

RUMUS TAMBAH RIZQI & HARTA 

1. BERSYUKUR

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya JIKA KAMU BERSYUKUR, niscaya Aku akan MENAMBAH (NIKMAT) kepadamu,

tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(Qs. Ibrohim : 7)

Aplikasinya :

Setiap kita mendapatkan nikmat sekecil atau seremeh-temeh apapun, ucapkan Alhamdulillah dg hati yg senang dan bersyukur.

2. BANYAK BERISTIGHFAR - MEMOHON AMPUN ATAS DOSA

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

maka aku berkata (kepada mereka), “MOHONLAH AMPUNAN kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia MEMPERBANYAK HARTA dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
(Qs. Nuh : 10-12)

Aplikasinya :

Rutinkan beristighfar minimal 100x sehari. Lebih utama di pagi hari, dan lakukan istiqomah SETIAP HARI TANPA TERLEWAT SEHARI PUN

3. MENDO'AKAN ORANG LAIN TANPA SEPENGETAHUANNYA : AGAR RIZQI NYA HALAL, LUAS, MELIMPAH & BAROKAH

إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).

Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas meng-Aamiin-kan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan yang sama dengan saudaramu tadi.”
(HR. Shohih Muslim)

*Aplikasinya :

LATIH DIRI KITA AGAR SETIAP melihat pedagang buah, tukang bakso, siomay, dll do'akan dalam hati agar dagangannya laris, rizqi nya melimpah luas dan barokah

Ketika lihat tukang service jam, tukang jahit, permak, sol sepatu, do'akan tanpa sepengetahuannya agar usahanya lancar, pelanggan nya puas dan senang, rizqi nya banyak melimpah berkah dan datang dari arah yg tidak disangka2.

demikian juga biasakan berdo'a dg sembunyi2 untuk orang2 lainnya.

RASAKAN SENDIRI PERBAIKAN DALAM HIDUPMU DENGAN SEGERA, INSYAA ALLOH... , dan bersyukurlah dg sebenar2nya

Wallohu a'lam

MBAH JUM

MBAH JUM

Oleh : Irene Radjiman

Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

“karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.

“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

“Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.

Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

Persiapan LO - Laparoskopi ; Konsul Dokter Penyakit Dalam, Jantung, Anastesi (12,13,14 Maret 2018)

Konsul Dokter Penyakit Dalam (12 Maret 2018)

Di RSUP Fatmawati, kita konsul ke poli sehari maksimal 1 poli. Jadi ga kayak di RS swasta gitu yang bisa semuanya dilakukan dalam 1 kali kunjungan. Dan untuk berkunjung ke 1 poli aja, masyaAllah bener2 bikin sakit kepala.. karena antriannya banyak banget.. Semisal hari ini aku ke poli penyakit dalam, jam stgh 8 aku udah standby di loket pendaftaran.. tapi baru dipanggil di loket itu jam stgh 10. Setelah itu antri lagi di poli nya.. dan aku baru dipanggil itu jam 11an menjelang dhuhur karena pas keluar Poli pas banget adzan dhuhur.. Padahal mah ketemu dokternya kayaknya ga ada 5 menit deh.. Cuma ditanya riwayat penyakit aja sama dibilangin kalau hasil cek lab nya bagus ga ada masalah, dan kamu saya acc untuk operasi. Wis gitu thok.. Lanjut besok untuk konsul dokter jantung, besoknya baru ke dokter anastesi.. Yang anastesi itu tanpa pengantar, cuma dibilangin sama suster di penyakit dalam pas ngumpulin mapnya.

Oya untuk hasil cek lab nya bener2 aku lupa foto.. padahal nginep di rumah hampir seminggu itu.. ga tau juga kalau hasil lab nya bakal di ambil. Tapi ya meskipun di fotoin kita ga ngerti juga bacanya..
Kalau yang aku lihat sih ada sedikit bakteri di urine nya.. feeling sih karena kurang minum aja.


Konsul Dokter Jantung (13 Maret 2018)

Di poli ini masih sama sih antrinya lama.. Pagi-pagi setelah dari loket pendaftaran, langsung antri ke poli jantungnya.. Karena masih pagi sekitar jam 8 lewat dan dokter belum datang juga.. Jadi di poli jantung diadakan seminar tentang jantung koroner. Dijelaskan juga penyebab-penyebabnya, dan untuk mencegahkan harus bagaimana. Kesannya simple sih ya, tapi ini penting karena kebanyakan penyakit jantung itu mengenai orang usia 50 ke atas.. Orang yang mempunyai keluarga yang punya sakit jantung, kemungkinan akan menurun ke keturunannya tapi ga setiap yang punya sakit jantung adalah turunan dari ortunya.. Kita juga wajib menjaga kesehatan, jaga makan dan rutin olahraga.

Oya, alhamdulillah sih dulu sudah pengalaman rekam jantung (EKG). Buat temen2 yang mau konsul ke poli ini untuk persiapan operasi, usahakan pakai kemeja yaa.. atau baju kaos yang gampang buat dilipat ke atas.. karena kita bener2 telanjang dada untuk rekam jantung ini.. tenang aja.. disini rekam jantungnya dipisah kok antara laki2 dan perempuan..
Setelah EKG baru tunggu panggilan ke dokter jantung.. Sayangnya pas giliranku, para dokter lagi rapat pajak.. Dan pas aku masuk, dokternya masih aja debat masalah pajak..
Ngomongin pajak sih emg sekarang jadi krusial yaa.. di kantorku yang notabene lembaga non profit, sekarang udah dikenakan pajak, dan kita2 juga sudah mulai diwajibkan untuk lapor pajak mandiri tiap bulan.. meskipun ptkp nya nihil. Aku sih ga begitu paham yaa.. silahkan bertanya pada ahlinya.

Eh terus pas ke dokter, dokternya cuma ngecek detak jantuk pake stetoskop, liat berkas dan bilang "bagus". Kayaknya sih ga nyampe 5 menit yaah..


Konsul Dokter Anastesi (14 Maret 2018)

Dan terakhir adalah konsul ke dokter anastesi. Sejauh ini, konsul kesinilah yang tercepat dari semuanya.. Daftarnya juga via online sih langsung dapet nomor, esoknya langsung ke loket 10 yang khusus pendaftaran online.. Menurutku lebih cepet daftar online karena bisa dapet nomor awal, dan antriannya belum sebanyak kalau kita antri di loket aslinya. Habis dari situ ngumpulin ke keranjang poli, ga lama dipanggil untuk tensi dan disuruh isi surat pernyataan menyetujui untuk tindakan anestesi nya.. dipanggil lagi ketemu dokter, cuma ditanya2 sebentar terkait riwayat penyakit, trus diinfo sebelum operasi puasa minimal 6 jam ga makan dan minum, biusnya total. Udah gitu aja trus pulang.. thats simple. Biasanya kelar konsul jam 12 pas dhuhur, eh ini jam 10-an juga udah kelar.

InsyaAllah senin terakhir konsul ke dokter kandungan. Mohon do'anya ya teman-teman..

Eh lupa, disana sih tiap jam 8 teng, di loket selalu ada pengarahan dari petugas. Ada beberapa hal sih yang aku inget, kurang lebih:
  1. Pendaftaran poli sudah bisa online , pake sistem yang disediakan RS sudah siap cetak nomor antrian atau bisa via web RSUP Fatmawati (di sini). Kecuali poli jantung dan penyakit dalam kalau ga salah, karena dua poli itu sudah cetak tiket dari polinya sendiri. Tapi ini bisa ditanyakan aja ke petugas yaa.. karena lagi fokus antrian jadi agak kurang2 denger gitu deh.
  2. Pendaftaran poli sudah bisa scan barcode bpjs di tempat pengambilan nomor antrian. Ini baru ada di poli kebidanan dan kandungan aja.
  3. Peserta bpjs bisa dari klinik/puskes langsung ke fatmawati. Tapi, harus ke kantor bpjs yang di fatmawati dulu baru ambil nomor antrian untuk ke loket pendaftaran. Kata petugasnya sih malah ribet, karena antrian di BPJS nya aja panjang banget.. bahkan bukanya sama dengan jam buka di loket pendaftaran RS. Jadi bisa siang baru kelar pendaftaran di loketnya.. lebih simple kalau dari klinik/puskes ke RS tipe B dulu baru minta rujuk ke RS tipe A (Fatmawati), itu langsung bisa ambil nomor di loket pendaftaran.
  4. Berkas yang harus dilengkapi atau harus dibawa serta bagi peserta BPJS : copy rujukan dari klinik/puskes, copy rujukan dari RS tipe B dan copy BPJS. Setiap daftar di loket pendaftaran harus menyertakan dua rujukan itu yaa,, meskipun aku waktu itu cuma 1 doang rujukan dari RS tipe B nya aja yang lampirkan. Tapi buat jaga2 daripada bolak balik ya mending dicopy juga sekalian.. 
  5. Masa berlaku rujukan adalah 3 bulan sejak diterbitkannya surat rujukan tersebut. Misal di situ tertulis bulan January 2018, maka bulan April kalau mau kesitu untuk konsul, periksa atau kontrol apapun.. harus sudah diperpanjang. Kalau ga ya ga bisa.. eh bisa sih, tapi harus ngurus2 ke kantor bpjs yang di rs fatmawati dulu, ribet.

Itu aja sih.. makasih udah baca !


Selasa, 06 Maret 2018

Bagaimana menabung agar dapat 100 juta pertama?

Bagaimana menabung agar dapat 100 juta pertama?


1. Tunda semua kesenangan yang pake duit. Ex : jajan, beli pakaian, sepatu, tas, etc.
2. Tiap dapat rezeki, langsung alokasikan mau nabung berapa. Jangan nunggu sisa baru nabung.
3. Buka rekening khusus untuk menabung. Tapi rekeningnya yang tanpa atm ya.
4. Setiap menabung di bank, ingat untuk melakukan hal ini : DATANG, TABUNG, LUPAKAN! ---> Maksudnya ga usah diinget-inget lagi kalau kita punya tabungan sekian. Untuk melatih otak kita agar tidak panas saat kita punya banyak uang.
5. Saat terkumpul 5 juta pertama, langsung depositokan. Untuk tahap awal, bisa coba deposito yang 3 bulan dulu. Selanjutnya, jika sudah terlatih memanage bisa ambil deposito yang tahunan.
6. Simpan bilyet deposito 1. Mulai menabung lagi hingga terkumpul 5 juta ke-2, lalu depositokan lagi seperti proses sebelumnya. Begitu seterusnya hingga terkumpul banyak bilyet 😂.  Keuntungannya, saat kita benar-benar butuh uang banget, ga semua deposito dicairkan. (Kalau bisa sih jangan terpakai ya).
7. Simpan semua bilyet di tempat yang aman. Dan pliiiiis, jangan diinget-inget kalau kita punya deposito sekian, tabungan sekian. Tetap hidup sewajarnya. Untuk semua hal  yang gak bikin kita mati kalau gak beli, berarti bisa ditunda/dicancel!!!
8. Setelah terkumpul 25 juta pertama, silakan jadikan 1 deposito. Dan ingat, tetap menabung. Lakukan seterusnya hingga kebiasaan ini benar-benar menjadi life style kamu dan keluargamu.
9. Mulai dari point no 1 lagi, hingga terkumpul 25 juta ke-2, lalu satukan deposito kamu menjadi deposito 50 juta pertama kamu, dst dst dst hingga suatu saat nanti akan tercipta tabungan 100 juta pertama kamu. Aamiin ...

Nikmati prosesnya. Jangan lupa untuk dipotong zakat maal dan sedekah. Ini bukan masalah uangnya, tapi bagaimana kita membentuk mental kaya. Saat orang sibuk menghabiskan/membelanjakan uangnya, mari kita sibuk menabung uang kita. Setelah terkumpul uang dalam jumlah tertentu, kita dapat membeli aset untuk menambah tabungan kita dalam bentuk lain.

Selamat mencoba 🤗


DS, 9 Januari 2017
(inisial di ambil dari FB temen, cuma lupa siapa namanya)

ASMARA KEDUA

Aku menikah di usia yang tak lagi belia, hampir kepala tiga. Padahal orang-orang bilang aku cantik, putih dan tinggi, meski hidungku tak mancung tapi bertengger manis.

Tak laku? bukan sih, banyak yang naksir atau yang terang-terangan ngajak nikah, tapi hatiku telah terikat dengan Arkan teman sepermainan dari kecil, selisih usia dua tahun. Dari kecil dia baik selalu melindungi dan ngemong. Makin dewasa kami makin dekat dan akhirnya kita punya komitmen untuk membina rumah tangga.

Meski usia kita telah cukup, begitupun dengan finansial, dia bekerja dengan gaji yang cukup dan akupun sama bekerja di perusahaan swasta. Tapi Arkan selalu menunda dengan alasan tak mau melangkahi Bang Johan.

Bang Johan Kakak dari Arkan, ganteng tapi dingin jarang ada senyum di bibirnya, dari cerita Arkan Bang Jo ditinggal calon istrinya beberapa hari sebelum pernikahan, calonnya pergi dengan laki-laki lain.

"Tapi sampai kapan kita menunggu Bang Jo, Ar?"
"Sabar Cha, percaya pada suratan takdir," jawab Arkan dengan tetap tenang.
"Sabar sih sabar, Ar! tapi ingat usiaku, hampir tiga puluh," kataku dengan suara tercekat saat sadar bilangan yang kusebut. "Lagian kalau tidak usaha mana bisa kita nikah," lanjutku berapi-api.
"Jangankan mendekati tiga puluh, sampai nenek-nenek kau tetap yang terindah buatku, Cha."
"Halah ... gombal kaya abege!"
~
Seminggu setelah kejadian itu aku tak bertemu Arkan, hingga malamnya setelah shalat maghrib aku tenggelam dalam bacaan kalamullah, pintu kamar diketuk dan Ibu memanggil.
Kututup Al Qur'an dam membuka pintu. Ibu langsung masuk dengan tergesa.

"Kalau mau ada tamu ya bilang atuh, Neng! kan Ambu malu tak ada suguhan," cecar Ibu.
"Tamu, tamu siapa Bu?"
"Keluarga besar Pak Ibrahim datang."
"Hah? kaget bahagia dan beraneka rasa berebut masuk dihatiku.
"Sudah, kamu dandan yang cantik, Ibu tunggu di depan,"
"Tapi, Bu."
"Sudah, ayo cepet!"

Gamis merah hati dipadukan dengan kerudung senada, setelah rapi aku menyusul Ibu ke ruang tamu. Benar saja semua keluarga Pak Ibrahim sudah memenuhi ruangan hanya terselip Apa, Ambu dan adikku Naufal.
Kuedarkan pandangan kenapa Arkan tidak ada.

"Sini duduk, Teh!" Naufal menuntunku duduk di sampingnya.
"Kak Arkan tidak ikut," bisiknya, paham dengan hatiku karena dia satu-satunya yang tahu hubungan kami.
"Nah karena Nak Nissa sudah hadir, boleh kami sampaikan maksud kedatangan kami?" Paman Hamdan yang merupakan adik Pak Ibrahim mulai bicara.
"Silahkan, sambil disambi ngopi," jawab Apa.

Akhirnya mereka mengutarakan niat mereka menghitbah aku, juga resepsi yang jangan dilama-lama, segera ditentukan katanya.

"Bagaimana Cha?" tanya Ibu.
"Sebentar, saya ikut bicara. Bapak sekeluarga menghitbah Kak Nisa buat siapa? mengingat putra Bapak ada dua," kata Naufal.
Ah ... ini anak memang dewasa sikapnya, meskipun posisinya sebagai adik tapi aku sering bermanja dan meminta pendapatnya bila ada masalah.
"Betul, kami lupa," kata Pak Ibrahim. Disambut tawa semuanya, aku hanya tersenyum.
"Kami menghitbah Nak Annisa untuk putra kami Johan," sambung Paman Hamdan.

Derrrrr!
Jantungku bagai kena setrum dan langsung menjalar keseluruh tubuh, lesu, marah, kecewa dan kaget.

"Bagaimana Nak Nisa?" tanya Pak Ibrahim, sementara Bang jo hanya tersenyum, saat kucoba mencuri pandang.
Dengan segenap kekuatan aku menjawab.
"Saya minta waktu, Pak, Bu. Tiga hari sampai seminggu."
"Baiklah kalau begitu, karena kami sudah ngopi, makan isi toples hampir ludes dan yang penting jawaban Nak Nisa, kami mau pamit," kata Pak Ibrahim.
Sepeninggal keluarga Arkan aku segera masuk kamar, kutelpon Arkan dengan gusar. Apa ia tahu keluarganya menghitbah aku untuk Bang jo.

"Iya, Cha! ... aku tahu," jawabnya.
"Lalu?"
"Aku tak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku Cha."
"Kamu tak sanggup mengatakan pada keluargamu, tentang hubungan kita?"
"Sekali lagi maafkan ketidak berdayaan aku, Cha. Kuharap kamu mau terima Bang Jo."
Hakss! Aku tutup telpon, kulempar ke atas kasur. Marah dan kecewa lagi-lagi mengerubingi rasaku.
Tiga hari aku belum bisa memberi jawaban, semua samar dalam pikiranku. Kebencian pada Arkan, membuat pikiranku mengusulkan untuk menerima Bang Jo.
Handphonku berdering tanda sms masuk, dari Arkan.
"Asslamu alaikum, Cha. Aku pamit ditugaskan ke perusahaan cabang di pelosok. Maafkan aku."
Tak kubalas, meski hati menangis antara rindu, kesal dan kecewa.
~~
Sebulan sudah aku resmi jadi istri Bang Jo, pernikahan yang sangat diharapkan dua keluarga. Entah denganku dan Bang Jo.
Arkan tak ada kabar, seperti hilang ditelan bumi. Saat pernikahan kami ia pun tak hadir, saat aku tanyakan pada Danisa adik bungsunya, ia bilang sibuk ada pekerjaan yang tak bisa di tinggal.

Benar kata pepatah 'Tresna jalaran saka kulina' akhirnya aku merasa nyaman berada di samping Bang Jo, mulai sedikit menggeser singgasana Arkan di hatiku.

Kami pindah rumah karena pekerjaan Bang Jo mengharuskan kami pindah ke lain kota. Delapan tahun pernikahan dua orang buah hati kami telah hadir. Sang Kakak Fahri dan adiknya Farah. Telah tumbuh dengan lucu dan sehat. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan ini. Tinggal merawatnya karunia yang tak terhingga ini.
~~~
Braaaaaaaak!!
Mobil yang kami tumpangi ditabrak sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Anak-anak yang duduk di belakang itu yang terpikir. Tapi sebelum aku meraih mereka semua terlihat gelap.

Aku dan Bang Jo terluka parah, seminggu Bang Jo koma dan aku tak berdaya dengan berbagai luka. Sebulan aku mulai pulih dan merawat Bang Jo. Anak-anak tak mengalami luka serius karena posisi mereka yang duduk di belakang.

Dua bulan Bang Jo boleh pulang, dan harus terapi seminggu sekali. Ia belum bisa berjalan karena retakan di tulang punggung juga pendarahan di bagian kepala.

Kujalani dengan berusaha tabah. Merawat Bang Jo, anak-anak dan menjaga toko untuk sumber penghasilan kami, karena otomatis Bang Jo tidak lagi bekerja. Untuk pengobatan mertua dan adik iparku Danisa yang membantu.

Tiga tahun aku menjalaninya, ketika suatu malam Bang Jo melambai dari kursi roda di ruang keluarga.

"Ada apa, Bang?"
"Maafkan Abang, telah banyak menyusahkan kamu, jaga anak-anak ya," katanya sambil membelai kepalaku.
"Abang ngomong apa, sih? Abang akan sehat, kita membesarkan anak-anak bersama."
Abang hanya tersenyum, lalu meninggakanku begitu saja. Setelah melihat anak-anak di kamarnya aku menyusul Bang Jo ke kamar, ia tengah berbaring dengan menatap langit-langit.
"Abang ngantuk?"
"Iya Nis, mata pengen merem terus."
"Ya sudah, Abang tidur.”
“Sini temani!” katanya sambil menepuk kasur di sampingnya.
Aku menurut, merebahkan tubuh di sampingnya. Ketika Bang Jo tiba-tiba memijit hidungku gemas.
“Abang, sakit tahu!” kataku pura-pura ngambek.
“Mau lagi?”
“Ogah!”
“Kalau gitu, cium dulu,” katanya sambil menunjuk pipinya.

Aku menurut, berbalik dan menciumnya. Bang Jo memelukku, akupun tak menolak hingga kita, tepatnya aku terlelap. Itulah terakhir kali aku berbicara dengannya. Karena subuh saat kubangunkan untuk shalat ia sudah tak bernafas.
~~~
Dua tahun sudah aku hidup tanpa Bang Jo, rumah dan toko kujual. Kami pindah ke rumah Ambu, atas permintaan mereka, karena Naufal pun sudah mandiri dengan istrinya mengelola sebuah toko pakaian.

Dengan mertua pun berdekatan, jadi saat mereka kangen cucunya tak perlu jauh.
Hingga suatu sore, saat aku tengah tiduran setelah pulang dari toko membantu Naufal, Farah menepuk-nepuk pipiku.

“Bunda!”
“hmm.”
“Bangun, iihh.”
“Ada apa?” kataku sambil membuka mata.
“Di rumah Eyang ada Om baru, tadi siang datang Eyang sampai nangis loh, Bun.”
“Om baru?”

Farah mengangguk, lalu ia pamit mandi. Aku masih tercenung memikirkan Om baru, siapa pikirku. Ketika ada yang mengetuk pintu, bergegas keluar dari kamar menuju pintu depan. Begitu dibuka jantungku seakan melonjak.

“Arkan?”
“Boleh aku masuk?”
“Iya, silahkan!”

Lama kami saling diam, disamping bingung harus berkata apa, juga masih sibuk menata deburan rasa yang berbaur memenuhi rongga dada. Sampai akhirnya Arkan bicara.

“Aku datang untuk minta maaf, padamu Cha.”
“Sudah terlalu banyak kau mengucap maaf, apalagi?”
“Kamu marah, benci padaku?”
Aku tak mampu menjawab, hanya terdiam sambil memaikan ujung jilbab.

“Kalau kamu masih marah aku terima, tapi sebelumnya dengarkan penjelasanku, Cha. Aku tak kuasa menyakiti orang-orang yang telah berjasa, aku bukan anak kandung Bapak sama Ibu. Aku anak angkat mereka, lalu pantaskah aku mematahkan harapan mereka?” Arkan bercerita dengan sedikit terbata. "Apa kamu pikir aku bahagia? sakit Cha, sampai aku harus pergi agar tak bertambah sakit melihatmu." tambahnya.

Aku menatapnya haru, ternyata dibalik semua kepengecutan yang kusandangkan padanya, ada keluhuran budi.

“Aku datang ingin meminta satu kesempatan, untuk kita kembali menjalin apa-apa yang telah lama terputus.”
"Istrimu?"
"Istri? Hahaha" ia tertawa hambar.
"Aku mengajukan mutasi ke pelosok, bertahun-tahun kumengabdikan diri di sana, di hutan tepatnya. Kalau monyet banyak."
Aku tersenyum, lucu dengan ceritanya.
"Senyummu masih sama, yang terindah."
"Aku sudah tua, Ar."
"Apa kamu lupa? sampai jadi Nenek-nenek pun kau tetap yang terindah bagiku."
"Gombal."
"Serius ... kalau bukan karena indahmu mana mungkin aku betah berteman monyet selama bertahun-tahun."
"Kamu tak berubah ya gaya bahasanya."
"Mungkin,
dan selama di sana aku menulis buku, yang rencananya mau kuhadiahkan padamu, kalau bersedia jadi istriku."

Garut 04 Maret 18


Karya : Nay Moza
di grup FB Komunitas Bisa Menulis

_____________

maaf ya mba, ga ijin mau share.. tulisannya bagus bangettt.. 

FAKTA : SEMUA WANITA ITU CANTIK !

         FAKTA SEMUA WANITA ITU CANTIK :


  1. Dasarnya, semua wanita itu cantik (kalau didandani, hihihi)
  2. Semua wanita itu cantik (kalau punya duit buat ke salon)
  3. Semua wanita itu cantik (tergantung dari sudut pandang mana)
  4. Semua wanita itu cantik (hidungnya aja kah, matanya aja kah, rambutnya kah, hihi.. tapi ini kan salah satu unsur kecantikan)
  5. Semua wanita itu cantik (permak pake aplikasi aja sekarang mah gampang gratis lagi ga perlu ke salon)
  6. Semua wanita itu cantik (kata mamakku sih)
  7. Semua wanita itu cantik (mas swami sih iyain aja yaa.. asal jangan bandingin ama yg dibelakang, haissshh)
  8. Semua wanita itu cantik (ya iyaaalaaaah.. semua orang juga tau ! kalau ganteng namanya laki!!!)



sekilas iklan aplikasi kecantikan, wkwk

Senin, 05 Maret 2018

Persiapan LO - Laparoskopi ; Laboratorium & Radiologi (05 Maret 2018)

Hari ini pertama konsul untuk persiapan operasi. Yakni ke laboratorium untuk cek darah + urine lengkap, dan photo thorax di radiologi.

Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, di rsup fatmawati itu super duper antri semua-muanya. Jadi kalau mau kesini ya harus siap bersabar, dan kalau kamu adalah pekerja kayak aku.. better kamu obrolin masalah kesehatanmu ke atasan untuk mempermudah perijinan. Karena disini untuk konsul itu dari pengalamanku kesana, pasti minimal sampe siang (dhuhur). Jadi pastikan kalau kamu boleh ijin masuk siang.

Pengambilan darah untuk glukosa puasa dan glukosa PP 2 jam.. Kamu harus puasa minimal 10-12 jam (tetep boleh minum air putih loh yaa), setelahnya kamu makan lalu puasa lagi 2 jam.
Diambil darah kurang lebih 90 cc (jadi 3 tabung kecil karena yang akan diperiksa lumayan banyak). Tapi ini ga seberapa sih ya dibanding donor darah 250 cc dan menggunakan jarum yg lebih besar.
Pemeriksaan untuk lab sendiri adalah sebagai berikut :




Surat Pengantar Lab

Rincian Biaya Cek Lab (lumayan lah yaa kalau kena biaya, alhamdulillah dicover BPJS)



Nah, sambil menunggu untuk ambil darah lagi (setelah puasa 2 jam), aku sama suami mendaftar untuk Rongent (Foto Thorax) di gedung Radiologi. Awalnya agak bingung, karena 1 gedung itu untuk pemeriksaan macem2 yang berhubungan dengan Radiologi. Tapi syukur mata yang minus ini melihat tulisan PENDAFTARAN di salah satu meja CS.. (bukan sesuatu yang wah sih, hehe). Bersyukur juga disitu stand by pak satpam, pas mau taroh surat pengantar thorax, diinfo sama pak satpamnya untuk langsung mengantri di pintu 3 (di gedung Radiologi itu ada 5 pintu dengan klasifikasi masing2 ada foto thorax, MRI, foto panggul, dll). Lumayang mengantri juga.., oya baik cek lab maupun radiologi, sekali dipanggil langsung 5 pasien, mungkin untuk meringkas waktu yah.. dan menurutku termasuk efisien.

Disana ngapain aja ? Karena sudah pernah cek keduanya baik ambil darah maupun thorax, jadi sudah bisa menebak sih nanti mau diapakan. Dan khusus untuk foto thorax ini, sengaja pilih baju atasan dan bawahan yang mana baju atasannya mudah dilepas (kemeja kancing), karena disana akan diminta untuk ganti dengan baju khusus untuk foto rongent (biasalah, cuma selembar kain dengan tali), dan semua yang berbau logam harus dilepas (terpaksa harus lepas kerudung juga pas fotonya, sebenere peniti2 sudah dilepas sih, daripada ribut ngikut instruksi aja lah yaa). Ini ga lama kok, cepet, ga sampai 5 menit.

Rincian biaya nya sebagai berikut :





Untuk hasil cek lab diatas, semuanya bisa diambil 1 hari setelah cek, yakni esok hari dan tentunya.. Budayakan antri ! hihi..





Runtuhnya Langit Malam, Tragedi Cilandak 30 Oktober 1984

Hawa malam di hari senin 30 oktober 1984  itu terasa panas, acara dunia dalam berita yang dibacakan pembaca berita Unun Sugianto dan Yasir Denhas di TVRI baru saja usai mengumandangkan jingle khas penutupnya dilanjutkan  acara Arena dan Juara, sebuah acara  favorit saya meskipun hanya berupa rekaman-rekaman pertandingan menarik di beberapa cabang olah raga. Saat memasuki kamar depan dan membuka jendela untuk memberi hawa segar masuk kedalamnya, bunyi petasan yang meletup-letup terdengar bersahutan dari arah belakang rumah.

Cukup lama saya menyimak suara janggal itu, karena biasanya hajatan penduduk pinggir kompleks perumahan umumnya dilaksanakan di hari sabtu atau minggu dan mereka sering membunyikan petasan tanda pembuka pesta. Suara teriakan tiba-tiba membahana di malam itu, sahut menyahut memberi tahu berita yang terdengar simpang siur, "Gudang peluru meledak lagiii!". Kaki saya spontan melintasi bibir jendela kamar dan melompatinya hingga sampai ke teras depan. Ibu, kakak dan adik saya keluar memastikan berita, saat itu ayah tak ada di rumah, ia berdinas di satu kantor militer di pusat Jakarta. Tubuh kurus saya yang mulai meninggi   melesat, menyusuri jalan depan rumah dan melewati  lorong kecil arah barat dekat lapangan badminton untuk melihat apa yang terjadi, terdengar ibu berteriak memanggil.

Saya tahu dimana  gudang peluru itu, tempat dimana saya sering bersama sahabat kecil saya,  wiranto,Yudi, Iyok dan Narto bermain ditepi-tepinya. Gudang peluru itu berbentuk bagai  enam makam besar dengan gundukan berbentuk parabola yang di masing-masing ujungnya terdapat tangga menuju kebawah dan dibatasi oleh kerangkeng besi kokoh dan pintu kayu maha berat. Letaknya yang dekat dengan Dapur tempat memasak bagi keperluan pasukan penghuni asrama yang tinggal didalam markas  lebih membuat kami menjuluki tempat itu sebagai "Belakang dapur" dibanding menyebutnya sebagai gudang peluru. Mulanya kami tak menyadari bahwa tempat bermain kami itu tersimpan ribuan peluru roket besar sebesar batang kelapa yang dulu disiapkan oleh presiden soekarno untuk menghantam tentara kerjaaan Belanda guna membebaskan Irian barat, sampai sebuah letusan kecil pernah terjadi pada bulan Juli 1984 sebelumnya namun berhasil dipadamkan. Saya menyeruak dan menerjang berlawanan arah dengan beberapa Provost yang mencoba menghadang laju orang-orang yang sangat ingin tahu, dan tiba-tiba.....kami saling bertubrukan. Lampu seketika padam mengakibatkan pandangan yang gelap gulita tanpa cahaya. Para Provost berteriak mengusir siapa saja yang berjalan ke arah gudang peluru yang jaraknya hanya  1-2 kilometer saja dari rumah kami. Saya panik dan berlari berbalik arah, suara dentuman mulai mengeras dan menggetarkan bumi.

Tiba dirumah, sekeluarga kami nampak panik kecuali ibu. Ia sibuk berunding dengan para tetangga untuk berencana seterusnya akan berbuat apa namun dentuman demi dentuman membuyarkan semuanya, satu demi satu tetangga kembali kerumah dan mempersiapkan pengungsian apa adanya. Sementara Ibu memasukkan segala pakaian yang bisa dibawa, kami anak laki-laki mempersiapkan segala surat yang perlu dibawa dalam sebuah kopor. Adik bungsu saya menangis sejadi-jadinya, karena ketakutan luar biasa dan juga menangisi sofa baru di ruang tamu kesayangannya yang baru saja dibeli ayah seminggu yang lalu. Ibu duduk berdoa diruang tamu lalu meletakkan sebuah Alqur'an di atas meja dan mengajak kami bergerak meninggalkan rumah. Ketenangan ibu saat itu memberi kekuatan tersendiri. Di jalan utama ribuan orang mulai bergerak, takbir berkumandang, doa dihantarkan dari mulut semua orang, tangis anak-anak kecil yang tak  terperikan ketakutannya karena tak tahu ada apa gerangan sementara manusia dan kendaraan tumpah ruah mencari jalannya masing-masing.

Gelegar yang menggoyang bumi  bersahutan tiada henti di belakang kami dalam gelap gulita tanpa penerangan. Perjalanan yang sungguh dahsyat ditingkahi dengan teriakan "Awaaaas...!" berkali-kali. Peringatan itu berulangkali dikomando para lelaki dan tentara muda yang ikut juga meninggalkan markasnya ketika bulatan merah melintas beberapa meter  diatas kepala mendesirkan gemericik pasir dan hawa yang amat panas pada tengkuk. Ribuan orang seirama bertiarap di jalan-jalan lalu kembali berlari menuju arah selatan tanpa tahu mau kemana tujuan akhirnya. Desir panas datang dari roket yang meluncur tak tentu arah kearah timur dan beruntung hanya beberapa kearah selatan tempat arah kami berusaha mengungsi, sebuah pilihan yang tepat yang hanya Tuhan saja yang tahu mengapa semua orang memilih arah itu. Roket itu melesat silih berganti bagai tiada kendali dan bunyi dentuman beberapa ton besi yang panjang menghujam tanah kebun-kebun yang kami lalui siap mencabut nyawa ribuan orang yang jatuh bangun bertiarap dan berdiri dengan teriakan masing-masing. Dalam kilatan cahaya yang menerangi gulita malam itu  sebuah mobil berjalan perlahan bersama dibelakang kami sekeluarga dan sorot lampunya menandai punggung kami lalu terdengar teriakan orang dari dalamnya mengajak kami sekeluarga untuk ikut ke dalam mobil itu. Mereka tetangga kami cukup jauh yang mengenali ibu karena ibu sering membuatkan baju untuknya. Karena kami masuk rombongan pertama, jalan masih memungkinkan untuk ditembus, sementara dibelakang kami lautan manusia harus berjalan tertatih tatih, jatuh bangun menuju tempat yang aman sejauh mungkin menghindar lokasi ledakan. Kembali Tuhan memberikan kendaraan cepat untuk kami meninggalkan epicentrum ledakan yang merontokkan fondasi dan dinding-dinding rumah yang kami tinggalkan.

Kami tiba lebih cepat di kawasan Pondok Cina disbanding mereka yang tak beruntung hingga harus terus menyusuri jalan yang panjang dimalam itu. Ketika tiba di tanah yang datar depan halte Universitas Indonesia yang kala itu masih belum beroperasi, kami memandang kearah utara melihat langit memerah meletup letup dengan bara yang membumbung serta kilatan roket yang melintas diangkasa siap memangsa apa saja yang ada di depannya. Sekonyong-konyong ditengah doa untuk para tetangga dan kawan-kawan yang tengah berjalan mengungsi, sebuah ledakan maha dahsyat menghantam wajah-wajah yang cemas, buliran pasir yang terhempas dari arah utara membuat sebuah desingan hebat hingga membuat kami tersungkur di jarak yang demikian jauh dari tempat ledakan. Semua kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan menuju depok tempat dimana beberapa kerabat yang mau menampung kami sebagai pengungsi.

Malam itu seluruh wilayah Jakarta selatan dan timur morat-marit, roket berdentam ke tanah menghajar apa saja dibumi tak ada yang menghentikannya. Sungguh suatu kemurahan Tuhan, tak ada satupun roket itu meledak pada titik jatuhnya hingga korban tak banyak jatuh karena ledakan, padahal di dalam gudang itu terlontar peluru dan rudal berjenis roket berjarak tembak 15 km yang bila peluru ini meledak, seorang anak yang berada 100 meter dari ledakan akan muntah darah karena jantungnya tergetar. Kemudian ada howitzer 140 mm, ada peluru-peluru meriam anti Tank. Juga di situ disimpan bahan peledak TNT dalam pak-pak lima pon (TEMPO). Malam itu kami tidur dalam pengungsian, disebuah rumah seorang wartawan di Depok sementara ayah yang bergegas menuju rumah kami di tengah tugasnya hanya bisa berdiri di lapangan seberang Trakindo bersama Pangab Jenderal L.B. Moerdani, Pangdam V Jaya Mayor Jenderal Try Sutrisno, Kapolri Jenderal Anton Sudjarwo, dan Kapolda Metro Jaya Mayjen Soedarmadji yang sama sama berada dilokasi itu karena tak mungkin untuk bergerak meninjau langsung ke lokasi lebih dekat. Dalam catatan beberapa majalah dan Koran seperti Tempo, Sekitar 370 pasien diungsikan ke berbagai tempat: RS Pertamina, RS Yayasan Jakarta, ke Apotek Retno, Gereja HKBP, Balai Rakyat, Masjid - yang berlokasi agak jauh dari gudang mesiu itu. Dua pasien meninggal. kena serangan jantung. Dan karena panik 35 bayi dapat diungsikan, tapi tanda pengenal bayi yang tak sempat dipasang.

Setelah semua pasien diungsikan, baru sebuah peluru menghajar Asrama Putri II. Peluru itu menembus tembok, tembok pun hancur. Sebuah pesawat televisi masih tampak utuh terjepit reruntuhan tembok. Dalam ledakan malam itu para Marinir menyelamatkan tank dan panser menjauhi tempat kebakaran, sementara puluhan mobil pemadam kebakaran semula berniat memadamkan api tapi langsung berbalik arah karena yang dihadapi adalah enam buah gudang peluru, satu kendaraan tertinggal dilokasi karena kepanikan yang terjadi. Hingga esok paginya, ayah tak tahu dimana kami berada demikian juga kami tak tahu ayah dimana, saat itu tak ada mobile phone yang bisa saling memberi kabar. Hari kedua ketika ledakan agak mereda saya meminta ijin ibu untuk pergi sendiri kembali kerumah dan ia mengijinkan dengan wajah khawatir. Dengan menumpang kendaraan apa saja saya berhasil bertemu ayah di depan rumah yang nyaris rata dengan tanah. Serpihan mortir menancap didinding-dinding yang tersisa. Uniknya bangunan rumah kami hancur rata dengan tanah namun masih ada ruangan yang berdiri kokoh satu petak saja yaitu ruang tamu. Dindingnya utuh namun kaca-kaca hancur tak tentu bentuknya. Disana sofa baru yang dibeli ayah sudah terselimuti serpihan debu, dan diatas meja kaca yang masih utuh, satu buah kitab suci Alqur'an dimana ibu meletakkannya sebelum mengungsi masih ada diatasnya tanpa tergeser sedikitpun.

Saya membayangkan betapa bahagianya adik bungsu saya jika tahu sofa kesayangannya masih utuh tanpa rusak sedikitpun. Mulai hari itu, saya sendiri dan ayah hidup dalam tenda pengungsian sementara ibu dan adik serta kakak tetap berada di kawasan depok hingga situasi aman. Berdiri mengular di depan dapur umum untuk menerima makan pagi siang dan malam sudah menjadi keharusan yang harus dihadapi murid SMP seperti saya. Tinggal menyebut anak siapa, maka sebongkah daging, ikan dan sayur serta nasi akan ada dalam dekapan.

Maka ketika dalam sebuah kesempatan saya mengajak ketiga anak lelaki saya tidur dalam dingin malam dikawasan Cibodas dengan tenda yang terus berogoyang tertiup angin, saya menyampaikan cerita ini pada mereka bahwa kapanpun dan dimanapun kita hidup bencana selalu siap menelan kita sebagai manusia, tak peduli di kota atau didesa. Mereka saya siapkan untuk bisa hidup dalam dekapan hangatnya hotel bintang lima, namun tak ada salahnya mereka juga bersiap untuk bisa hidup dalam tenda pengungsian ketika Tuhan menguji hidup kita.

Ketika langit malam runtuh saat itu, Tuhan berseru dalam gemuruh dan desingan peluru, “Tugas Manusia adalah berusaha dan Tuhan senantiasa menyiapkan hadiah bagi setiap mahlukNya yang Bersabar..."

Penulis : Dhadhoenx Hariyanto -
di grup FB Indonesia Tempo Doeloe (ITD)

Kehamilan Kedua

            Waktu itu tanggal 7 Februari 2021, ada seseorang share di grup wa tentang seleksi beasiswa S2 tazkia jurusan magister ekonomi sy...